Banyak orang mengira membuka usaha adalah hal yang paling berat dalam berwirausaha, mereka harus mencari produk dan pemasok bahan baku, memikirkan strategi pemasaran, menentukan harga yang bersaing di pasar, belum lagi mencari pelanggan.
Ya, membuka usaha memang tidaklah mudah!
Tapi sebenarnya, yang tersulit adalah mengelola usaha agar tetap sustain, mulai dari masalah kesiapan produk, sumber daya manusia, sampai dengan masalah keuangan.
Pengelolaan Keuangan merupakan kunci utama kegiatan operasional suatu UMKM. Pengelolaan keuangan bukan hanya sekedar catatan akuntansi keuangan melainkan bagian terpenting dalam proses perencanaan, pengelolaan dalam kegiatan bisnis.
Dalam pelaksanaannya, pengelolaan keuangan merupakan aktivitas yang muncul dalam rangka menyehatkan keuangan perusahaan atau organisasi. Dengan demikian akan lebih baik jika UMKM mencatat laporan keuangan lebih lengkap, sehingga akan lebih mudah bagi pelaku UMKM dalam mengelola keuangan perusahaan serta membantu untuk membuat keputusan bisnis yang lebih baik dan efektif.
Sebagian besar pelaku UMKM di Indonesia menjalankan kegiatan bisnisnya tanpa adanya sistem pencatatan keuangan yang rinci, banyak dari mereka yang merasa kesulitan dalam menerapkan sistem manajemen keuangan dalam usaha mereka sehingga mereka hanya melakukan pencatatan keuangan seadanya.
Kurangnya pengetahuan mengenai manajemen keuangan yang tentunya dapat menjadi hambatan bagi pemilik UMKM dalam mengelola perkembangan usahanya.
Melalui artikel kali ini, REKKAA akan membahas mengenai masalah yang sering terjadi oleh para pelaku UMKM. Mari kita simak!
APA SAJA MASALAH YANG SERING TERJADI?
- Pencatatan Keuangan yang Tidak Jelas
Seringkah kita tidak sempat atau bahkan menunda-nunda untuk mencatat pengeluaran dan pemasukan usaha.
Padahal, banyak sekali loh manfaat yang bisa didapatkan dari mencatat aktivitas transaksi UMKM secara rutin. Kita dapat mengetahui hal-hal berikut:
- Besaran biaya operasional
- Komponen biaya operasional/produksi yang masih dapat ditekan demi mendapat margin lebih
- Besaran keuntungan dari setiap produk yang ditawarkan
Selain mencatat pemasukkan dan pengeluaran usaha, jangan lupa juga untuk mencatat harta dan utang usaha.
2. Tidak Ada Pemisahan Rekening Usaha dan Rekening Pribadi
Bagi yang setuju kita sering tidak sempat atau menunda-nunda mencatat transaksi keuangan, kemungkinan besar kita juga mengalami masalah nomor 2 ini. Betul tidak?
Karena banyak pemilik UMKM yang tidak menerapkan hal ini. Alhasil, catatan keuangan tidak teratur, pengelolaan keuangan usaha maupun pribadi pun semakin sulit dilakukan. Yang paling mengkhawatirkan adalah jika anggaran rumah tangga sampai terpakai untuk biaya operasional usaha.
Siapa sangka, hanya dengan memisahkan rekening usaha dan rekening pribadi, kita dapat mempermudah pencatatan keuangan loh.
3. Tidak Menyisihkan Keuntungan
Saat kita memulai bisnis, pastinya kita optimis mendapatkan keuntungan. Memang, keuntungan adalah bahan bakar dari keberlangsungan suatu bisnis agar dapat berputar dan berkembang.
Tapi sebenarnya, mendapat keuntungan saja belum cukup untuk menjaga keberlangsungan UMKM loh, mengelola keuntungan adalah kuncinya.
Keuntungan, sebaiknya disisihkan sebagian untuk dana darurat usaha, tabungan modal untuk pengembangan usaha, barulah kemudian untuk penghasilan pemilik UMKM. Ya, kita gak salah kok! UMKM pun membutuhkan dana darurat.
4. Arus Kas Tidak Lancar
Sama halnya seperti keuangan pribadi, keuangan UMKM juga tidak boleh besar pasak daripada tiang. Artinya, kita wajib memperhatikan arus kas pengeluaran dan pemasukan UMKM setiap bulannya.
Masalahnya, dalam transaksi jual beli, seringkali timing pembayaran dari pembeli tidak secepat timing pengeluaran usaha. Biasanya, UMKM dengan delivery produk yang rumit akan membutuhkan waktu pengadaan/pembuatan yang relatif lebih lama.
Tidak seperti penjual retail yang sudah menyediakan stok barang siap jual, UMKM dengan bisnis model demikian harus menyiapkan kas untuk menutup biaya produksi di kala PO (purchase order) menumpuk.
Belum lagi kalau ada pembeli yang menunggak pelunasan dan mengacaukan planning keuangan UMKM.
5. Tidak ada Rencana Anggaran
Jika kita tidak merencanakan anggaran belanja, kemungkinan besar kita akan mengalami kesulitan dalam mengatur arus kas, terutama saat harga barang-barang modal produksi mengalami kenaikan.
Untuk itu, usahakan membuat anggaran belanja secara rutin baik setiap bulan, semester ataupun setiap tahun, menyesuaikan dengan jenis usaha kita.
6. Kurang Modal untuk Pengembangan Bisnis
Kurang modal adalah salah satu masalah paling klasik pada UMKM dalam mengembangkan bisnisnya.
Faktor utama penyebab 74% UMKM ini tidak memiliki akses permodalan adalah kurangnya informasi dan persyaratan yang sulit.
7. Belum Memiliki Izin Resmi
Memiliki izin usaha resmi penting loh!
Dengan mengantongi izin usaha yang resmi, kita memiliki akses permodalan dengan plafon yang lebih besar, jika dibutuhkan di kemudian hari. Bahkan, memiliki izin usaha adalah salah satu persyaratan untuk mendapatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) UMKM dari pemerintah bahkan mempermudah dengan pihak-pihak seperti bank.
8. Pengelolaan Utang
Terakhir, utang adalah salah satu ancaman terbesar dalam mengelola keuangan UMKM.
Bagai pisau bermata dua, utang produktif dapat mempercepat pemilik UMKM untuk melakukan pengembangan bisnis, namun tanpa kehati-hatian dapat pula menjerumuskan pemilik usaha. Pertahankan agar rasio utang terhadap aset di bawah 50% dan rasio utang terhadap pendapatan di bawah 30%.
LALU BAGAIMANA SOLUSINYA?
Pengelolaan keuangan merupakan faktor penting dalam menjalankan bisnis para pelaku UMKM di Indonesia dikarenakan memiliki pengaruh dalam aktivitas keuangan. Salah satu usaha dalam mengelola keuangan yang baik adalah dengan membuat laporan keuangan sesuai prinsip keuangan yang berlaku secara umum (PABU) .
Dengan adanya laporan keuangan dan manajemen kas yang baik diharapkan perusahaan dapat mengetahui kondisi keuangan perusahaan dan tentunya menjadi dasar dalam pengambilan keputusan untuk menentukan langkah-langkah yang dapat menjadi tahap pengembangan usahanya menjadi lebih baik, maju, dan sehat.
UMKM belum menerapkan sistem pencatatan laporan keuangan dengan baik sehingga untuk mengetahui jumlah keluar masuknya kas tidak hanya sebatas perkiraan yang dilakukan oleh pemilik.
Pemisahan antara aset pribadi dan perusahaan harus dilakukan, keterbatasan sumber daya yang ada segera dipenuhi, serta keterampilan tata kelola keuangan harus dimiliki oleh pemilik UMKM agar pengelolaan keuangan berjalan dengan baik.
Solusi lain agar pengelolaan keuangan dapat berjalan dengan baik, maka sebaiknya para pelaku UMKM mencari jasa profesional yang dapat membantu memberikan solusi dalam hal penyusunan Laporan Keuangan, dengan mengumpulkan semua data keuangan dan data pendukung yang diperlukan untuk membuat laporan keuangan, melakukan pencatatan semua transaksi yang terjadi setiap harinya, yang berkaitan dengan kegiatan keuangan perusahaan baik pembelian maupun pendapatan.
Selain itu, juga harus membuat laporan rutin setiap satu bulan satu kali, dengan tujuan untuk mengetahui posisi keuangan perusahaan dalam waktu satu bulan, sehingga kebijakan yang akan dilakukan tepat, membuat rencana arus kas setiap bulannya guna mempermudah tercapainya pengelolaan keuangan yang baik dan memisahkan aset pribadi dengan aset perusahaan.
KESIMPULAN
Dengan adanya masalah yang sering terjadi oleh para pelaku UMKM di Indonesia terutama dalam hal laporan keuangan dikarenakan minimnya pengetahuan para pelaku usaha untuk dapat membuat penyusunan laporan keuangan yang tepat dan benar.
Maka disini REKKAA bisa menjadi solusi terbaik buat teman-teman para pelaku usaha UMKM untuk memberikan solusi terbaik.


PENTINGNYA DAN MANFAAT PAYROLL BAGI UMKM
